Selasa, 28 Februari 2012

TUGAS SOSIOLOGI

TUGAS SOSIOLOGI

Discovery adalah suatu dari suatu unsur kebudayaan baru, baik brupa alat atau ide baru, yang diciptakan oleh seseorang atau beberapa idividu dalam sebuah masyarakat.

Contoh : Telepon, Komputer,dll.

Invention adalah suatu pembuatan bentuk baru yang berupa benda atau pengetahuan yang dilakukan dengan melalui proses penciptaan yang didasarkan atas kombinasi dari pengetahuan-pengetahuan yang telah ada mengenai benda dan gejala.

Contoh : Hand phone, laptop, pesawat  terbang,dll.

PERUBAHAN SOSIAL YANG TEJADI DI DESAKU :
Ketika aku masih kecil anak-anak di desaku selalu mengisi liburan dengan berbagai permainan tradisional seperti :petak umpet, dakon, layang-layang, kelereng, dan berbagai permainan tradisional lainnya.Tapi lambat laun seiring dengan perkembangan teknologi permainan-permainan tersebut mulai ditinggalkan dan digantikan oleh permainan yang serba instant seperti Playstation,PSP,Hand phone, nonton TV dll.Padahal permainan tradisional lebih mempunyai nilai positif karena dapat membuat anak lebih aktif dan tidak hanya pasif seperti halnya ketika bermain playstation yang hanya duduk selama berjam-jam sambil menatap layar televisi dan menekan tombol di stiknya saja tanpa melakukan aktiftas lainnya.

PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL YANG TERJADI DI DESAKU :
            Menurut pendapatku penyebab terjadinya perubahan sosial di desaku adalah perkembangan teknologi dan pola kehidupan masyarakat yang ingin hidup praktis dan tidak ingin repot sehingga mereka cenderung memberikan anak-anaknya mainan asalkan anaknya mau dirumah saja tanpa memikirkan bahwa anaknya akan jadi lebih pasif dan kurang bersosialisasi dengan teman sebayanya diluar sana.

Dampak Kemajuan Iptek pada Generasi Muda Di Bidang Kehidupan dan Sosial


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karunia-Nya penulis mampu menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul Dampak Kemajuan Iptek pada Generasi Muda Di Bidang Kehidupan dan Sosial.
Karya tulis ilmiah dengan judul Dampak Kemajuan Iptek pada Generasi Muda Di Bidang Kehidupan dan Sosial ini merupakan tugas mata pelajaran Sejarah.
Melalui karya tulis ilmiah yang berjudul Dampak Kemajuan Iptek pada Generasi Muda Di Bidang Kehidupan dan Sosial ini yang diharapkan dapat menunjang nilai penulis di dalam mata pelajaran Sejarah. Selain itu, dengan hadirnya karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi sehingga dapat memberikan pengetahuan baru bagi pembacanya.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Handayani S.Pd selaku guru mata pelajaran Sejarah serta kepada seluruh pihak yang terlibat di dalam penulisan karya tulis ilmiah yang berjudul Dampak Kemajuan Iptek pada Generasi Muda Di Bidang Kehidupan dan Sosial ini.
Penulis menyadari bahwa, masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk kesempurnaan karya tulis ilmiah ini di masa yang akan datang. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat.


Jombang, 29 Juli 2011

Penulis





 BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Terbentang dari Sabang hingga Merauke sudah pasti membutuhkan pembangunan dengan pengelolaan secara cermat. Baik SDA, SDM, perekonomian, pertahanan hingga pengelolaan yang bersifat kenegaraan. Agar pembangunan bidang-bidang tersebut dapat dikelola dengan baik, diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih. Dengan demikian, untuk mengelola pembangunan Indonesia diperlukan manajemen berbasis IPTEK.
Ironisnya, hingga saat ini IPTEK di Indonesia masih sederhana. Untuk kawasan Aisa saja, Indonesia masih tertinggal dalam IPTEK. Sehingga, diperlukan pengembangan IPTEK di Indonesia.
Untuk mengembangkan IPTEK, tidaklah cukup bermodalkan niat, melainkan memerlukan dana yang tidak sedikit. Kendalanya, disaat dana diperlukan untuk pengembangan IPTEK, perekonomian Negara memburuk, ditambah budaya korupsi yang merajalela sehingga memperbesar hambatan kemajuan IPTEK. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah IPTEK di Indonesia akan mengalami kemajuan jika kondisi bangsa ini statis dengan korupsinya? Dan jika IPTEK tidak maju akankah Indonesia menjadi negara maju?
Tidak dapat dipungkiri, generasi mendatanglah yang akan menerima warisan keadaan Negara yang kalut. Tegakah kita melihat generasi mendatang menderita akibat ulah kita ? Tentu saja tidak. Disinilah tantangan generasi muda saat ini untuk menjalin persahabatan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemuda sebagai kekuatan bangsa harus mampu memikul negara. Bung Karno pernah berkata ,“ Jangan datangkan para seribu orang tua, cukup datangkan sepuluh pemuda, akan kuguncangkan dunia “. Jelaslah bahwa pemuda adalah tunas bangsa yang menentukan arah bangsa ini kelak.

1.2         Rumusan Masalah
“Bagaimanakah dampak kemajuan IPTEK pada generasi muda di bidang kehidupan dan sosial?”
1.3         Tujuan
a.       Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Dasar II.
b.      Mengetahui dampak kemajuan IPTEK pada generasi muda di bidang kehidupan dan sosial.
1.4         Manfaat
1.4.1   Bagi pembaca :
a.    Mengetahui pengertian IPTEK.
b.    Mengetahui dampak kemajuan IPTEK pada generasi muda di bidang kehidupan dan sosial.
1.4.2   Bagi penulis :
a.    Membiasakan diri untuk menyelesaikan suatu masalah.
b.    Menjadi salah satu sarana untuk melatih diri mengembangkan bakat dalam menulis.
c.    Menghasilkan karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Teknologi
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu  karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan  “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia.
Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) memberi arti teknologi sebagai” keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia”Pengertian teknologi secara umum adalah:
a.       proses yang meningkatkan nilai tambah
b.      produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja
c.       Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembamngkan dan digunakan.

Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi "dunia" terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu : (1) pesawat terbang, (2) maritim dan perkapalan, (3) alat transportasi, (4) elektronika dan komunikasi, (5) energi, (6) rekayasa , (7) alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan (8) pertahanan dan keamanan.
2.2     Tingkatan Kebutuhan Manusia Terhadap IPTEK
Tingkatan kebutuhan manusia menurut Abraham Harold Maslow (Teori Masyarakat) manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif IPTEK terhadap kehidupan dampak positif dan negatif perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Capra menyatakan, bahwa budaya dunia (dalam hal ini adalah Barat, dengan segala aspek kemajuan yang mereka peroleh) telah terpuruk di lembah kehancuran, penuh kontradiksi, dan kacau. Penyebabnya adalah tidak tepatnya paradigma yang digunakan dalam penyusunan kebudayaan barat.
Jika analisa Capra di atas dikorelasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan segala dampaknya, seperti dijelaskan di atas,
sepertinya analisa tersebut sangat relevan.
Menurut Holmes Rolston III, kerangka kerja ilmiah yang digunakan para ilmuwan modern telah mengalami proses sekularisasi. Menurut Rolston, dahulu, penjelasan ilmiah harus meliputi empat sebab Aristotelian, yaitu efisien, material, formal, dan final. Kemudian, oleh para ilmuwan modern, sebab formal dan final yang berkaitan dengan makna dilepas, karena kajian ilmiah menurut mereka hanya berkaitan dengan fakta, tidak dengan makna. Proses sekularisasi ilmu juga didorong oleh pandangan ideologis bangsa Eropa yang cenderung rasional dan sekular serta tidak mempercayai hal-hal yang bersifat metafisis atau spiritual.
Dari gambaran di atas, jelaslah bahwa para ilmuwan barat telah terjebak pada alam pemikiran materialistik (menurut Auguste Comte alam positivistik), dan menolak pembicaraan tentang hal-hal yang bersifat metafisis dan spiritual. Karena paradigma yang mereka gunakan hanya berdasar pada paradigma materialistik, maka dalam pengembangan ilmu pengetahuan pun, yang selanjutnya menghasilkan teknologi, mereka sama sekali tidak mendasarkan pada nilai-nilai yang telah digariskan Tuhan.
Lebih lanjut, jika melihat kategorisasi dari Mahmud Muhammad Thaha tentang peradaban (madaaniyyah) dan kebudayaan (hadlaarah), akan terlihat lebih jelas kesesatan manusia modern dengan perkembangan IPTEK-nya. Menurut Thaha, peradaban adalah tujuan utama hidup manusia berupa kebahagiaan dan ketentraman hidup. Sementara kebudayaan hanyalah sarana atau alat untuk mencapai peradaban yang penuh dengan kebahagiaan dan ketentraman hidup. Peradaban barat yang didasarkan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terlalu silau dengan sarana dan alat yang mereka ciptakan sendiri, yaitu kemajuan IPTEK. Sementara tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu menciptakan masyarakat berperadaban (masyarakat madani) tidak pernah disentuh.
2.3     Dampak Perkembangan IPTEK
Kemajuan ilmu dan teknologi (IPTEK) yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ketakutan yang dirasakan oleh manusia akibat perkembangan teknologi ini disebabkan adanya kekhawatiran akan adanya penyalahgunaannya oleh orang yang tidak bertanggung jawaab.
Berbicara tentang dampak dari perkembangan IPTEK, maka kita akan dihadapka pada berbagai bidang, bahkan hampir semua aspek dalam kehidupan di dunia ini peyang dapat dipengaruhi oleh adanya perkembangan IPTEK, seperti yang kita lihat sekarang ini, semua orang dalam kehidupannya sehari-hari hampir tidak bisa lepas dari teknologi, seorang dosen kalau pergi ke kampus tidak lupa membawa, laptop dan LCD, setiap orang selalu berdampingan dengan HP, saat jam istirahat di rumah, selalu ditemani dengan tayangan Televisi, dan lain sebagainya, kesemuanya itu hanya sebagian kecil dari pengaruh perkembangan yang ditimbulkan oleh IPTEK.
Sebagai contoh PSS saat ini mengidentifikasi bahwa penyalahgunaan senjata nuklir, kimia, biologi dan radiologi serta WMO lain merupakan merupakan salah satu klaster ancaman bersama bagi umat manusia. Padahal hal tersebut merupakan hasil pemikiran manusia yang genius. Apalagi kalau perkembangan tersebut bersinergi negative dengan bahaya terhadap keamanan lain, baik yang bersifat simetrik seperti antar Negara maupun bahaya asimetrik seperti terorisme dan kejahatan transnasional terorganisasi yang disponsori oleh “nonstate actors”. Hal tersebut tidak hanya membahayakan Negara sebagai kesatuan (statecentric), tetapi juga membahayakan keamanan manusia (human security). (Sofyan Sauri, 2009).
Dengan adanya perkembangan IPTEK manusia medapatkan berbagai kemudahan dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Bahkan saat sekarang ini hampir setiap orang itu tidak bisa terpisah dari adanya teknologi, setiap orang memanfaatkan alat komunikasi langsung jarak jauh seperti HP untuk berhubungan dengan orang lain yang berjauhan. Orang kalau ingin bepergian ke luar negeri tidak lagi memerlukan waktu yang lama, karena mereka tinggal naik pesawat terbang, dengan beberapa menit saja mereka sudah sampai di tempat tujuan yang dituju, selain itu berbagai kegiatan yang pada awalnya dilakukan dengan menggunakan banyak tenaga manusia untuk mengerjakannya, kini dengan adanya perkembangan IPTEK semuanya itu dapat teratasi dengan penggunaan tenaga mesin untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan waktu yang relatif lebih cepat daripada menggunakan tenaga manusia secara manual.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya perkembangan IPTEK, manusia sangat banyak terbantu untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi disisi lain manusia juga harus sadar akan adanya berbagai macam ancaman yang dapat ditimbulkan oleh adanya perkembangan IPTEK tersebut, yang akan dapat membahayakan bagi manusia itu sendiri.
Akan tetapi teknologi juga dapat memberikan pengaruh negatif salah satunya adalah bergesernya nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Pada mulanya teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Misalnya lewat teknologi internet atau dunia maya orang akan semakin mudah mengakses situs-situs porno yang justru itu datang dari generasi muda, hal ini tentu membuat pergeseran norma asusila dalam hidup generasi muda tersebut. Ini menjadi satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada dalam kehidupan sehari hari masyarakat.
Contoh lain adalah dampak teknologi adalah dalam bidang militer, berpuluh – puluh macam senjata dicipatakan untuk membunuh manusia, kemana larinya budaya untuk saling menolong, menghargai sesama manusia kalau teknologi yang diciptakan justru dipakai untuk membunuh manusia sendiri. Yang paling hangat dalam ingatan kita tentunya kasus penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh pelajar beberapa waktu lalu yang justru dilakukan setelah pada mulanya berkenalan lewat media teknologi jejaring sosial online facebook. Dengan begitu mudahnya orang dapat mengakses informasi diri dan menyebarluaskan kepada sesama teman, akibatnya prostitusi pun dapat dilakukan lewat dunia maya ini yang justru merupakan efek dari perkembangan teknologi modern. Dan masih banyak lagi contoh betapa perkembangan teknologi yang begitu canggih justru disalah gunakan mengakibatkan bergesernya nilai – nilai budaya umat manusia itu sendiri.
Dari segala dampak terburuk dari perkembangan IPTEK adalah dampak terhadap perilaku dari manusia penciptanya. IPTEK telah membuat sang penciptanya dihinggapi sikap over confidence dan superioritas tidak saja terhadap alam lingkungan melainkan pula terhadap sesamanya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat (negara Barat) terhadap pihak yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat sejak lahirnya revolusi industri.

Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena ini pemerintah dianggap perlu mengembangkan suatu sistem pendidikan yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi tersebut. Tujuannya sangat sederhana, membuat pelajar-pelajar di negeri kita dapat bersaing dan mengejar ketertinggalan dari pelajar di negeri maju tanpa perlu kehilangan nilai-nilai kemanusian dan budaya yang kita miliki. Atau dengan kata lain, peserta didik di jenjang pendidikan dasar perlu diarahkan dan dibekali pendidikan teknologi guna menuju masyarakat yang "melek teknologi" yaitu bercirikan mampu mengenal, mengerti, memilih, menggunakan, memelihara, memperbaiki, menilai, menghasilkan produk teknologi sederhana, dan peduli terhadap masalah yang berkaitan dengan teknologi.
2.4     Hubungan  IPTEK dengan  Kehidupan Sosial
Dalam  abad  ke-20  IPTEK  berkembang  pesat berkat pemakaian alat-alat yang  makin sempurna,  sehingga  mendapat sebutan IPTEK modern. Kemajuan IPTEK  mendorong  majunya  teknologi  yang  makin dapat  memakmurkan  kehidupan manusia, karena tujuan  teknologi  memang diadakan untuk  kebutuhan  manusia.  Namun, di samping tujuan dapat tercapai,  terjadi pula dampak sampingan ( side-effect )  yang dapat mengganggu. Untuk  itu diupayakan  peningkatan kegunaan teknologi  dan memperkecil  dampaknya. Bila hal tersebut tercapai, maka kegiatan mempergunakan  teknologi  mamperoleh  nilai ekonomis  yang berarti. Misalnya,  pemakaian pesawat terbang  besar dan cepat memudahkan orang mencapai tujuan, tetapi  kejatuhannya  menimbulkan risiko besar. Jadi,  tujuan dapat dicapai dengan hasil maksimal, sementara dampaknya diperkecil.
Abraham  Harold Maslow   berbendapat,  bahwa manusia  adalah makhluk yang memiliki berbagai kebutuhan  yang digambarkan sebagai piramida. Landasannya lebar, makin ke atas   makin kecil. Kebutuhan pertama yang wajib dipenuhi manusia adalah  kebutuhan fisik yang juga dapat  disebut sebagai  kebutuhan primer (basic needs): sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal). Setelah kebutuhan fisik  terpenuhi, manusia perlu  keamanan  demi kelangsungan  hidupnya. Kemudian diperlukan  bermasyarakat  sebagai kehidupan  sosial selaku  homo socius.  Manusia yang dapat lebih cepat dan banyak  memperoleh  kebutuhan hidupnya  merasa perlu  memperoleh  harga diri. Akhirnya  manusia  memerlukan aktualisasi  diri sebagai  tujuan tertinggi.  Keempat  tujuan terakhir, yaitu keamanan, pengakuan sosial, harga diri, dan aktualisasi  diri merupakan  kebutuhan psikis, yang dapat juga  disebut sebagai  kebutuhan  sekunder  ataupun tersier. Dari hari ke hari kebutuhan  manusia baik fisik maupun psikis   terus meningkat, secara kuantitatif  maupun kualitatif.
Pengetahuan teknologi (technological  knowledge)  merupakan  pengetahuan mengenai  proses-proses  fisik yang  secara operasional  terwujud  dalam teknologi. Sehingga  kemampuan  berteknologi (technological  capability)  merupakan  usaha untuk  menggunakan tenaga teknologi  secara efektif  yang dapat dicapai  melalui  upaya teknologis (technological  effort). Tujuan  positifnya  bagi manusia  yang akan dicapai, sementara  dampak  sampingan yang negatif  perlu diperkecil.
2.5     Pengaruh IPTEK dalam Kehidupan Manusia
Pengaruh IPTEK dalam kehidupan kita sangatlah banyak, antara lain: Perubahan satu paradigma IPTEK dapat menyebabkan "revolusi" dalam semua bidang kehidupan: literatur, ekonomi, seni, politik, arsitektur, sosial, dan religi. IPTEK telah menyebabkan kita tidak tergantung pada alam.
IPTEK telah membebaskan kita dari takhayul dan memerdekakan kita dari berbagai hukum alam. Fenomena gerhana bulan bagi yang mengetahui IPTEK tidak lagi menyeramkan. Bagi yang menguasai IPTEK, hukum alam itu dapat dikontrolnya. Air yang hukumnya selalu mencari tempat yang lebih rendah dapat dibuat mampu memanjat ke gedung bertingkat seratus. Benda berat seperti besi yang hukumnya harus jatuh ke bumi dapat dibuat mampu terbang dan membawa ratusan manusia. Barang yang memiliki berat jenis lebih besar dari air yang kodratnya akan tenggelam, kini dapat diapungkan. Dengan teknologi, hujan dapat dibuat, gempa dapat diprediksi, cuaca dapat diprakirakan. Teknologi telah memerdekakan manusia dari alam, dan ia punya potensi untuk memerdekakan manusia dari sesamanya.
Perubahan mendasar dalam IPTEK akan membawa perubahan mendasar dalam semua bidang kehidupan. Selama 2000 tahun kosmologi Aristotelian telah mewarnai sistem politik, sosial, ekonomi dan bidang kehidupan lainnya. Sistem Aristotelian yang menggambarkan jagad ini bak sebuah bola kristal yang luar biasa besamya, dengan bumi di tengah-tengah dan planet-planet mengitarinya, di mana manusia dan makhluk lainnya telah dilahirkan dalam hirarki yang tak dapat ditolak, membawa implikasi munculnya sistem sosial yang sangat kurang demokratis menurut ukuran kini; ada kasta misalnya, dan itu diterima dengan ikhlas.
Tapi, munculnya Galileo telah meruntuhkan "kebenaran" yang dipercayai selama dua millenium itu. Bersamaan itu ia juga meruntuhkan sistem sosial yang selama ini dianut oleh masyarakat, terutama yang hidup di Amerika dan Eropa. Sejak era Galileo, pandangan hidup (world view) kita berubah. Jagad tidak lagi dipandang statis tapi dinamis, bumi bukanlah pusat jagad tetapi sebagian kecil daripadanya. Pandangan ini tak ayal lagi merombak sistem berpikir manusia, memperluas wawasan dan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Sistem sosial-politik berubah menjadi lebih terbuka. Banyak nilai-nilai lama yang runtuh dan tergantikan.
Teknologi-teknologi yang telah membawa perubahan monumental dalam kehidupan manusia adalah jam (membantu manusia masuk dalam konteks waktu); kompas (menolong manusia memasuki medan ruang); teleskop (mendorong manusia untuk melebarkan cakrawala ke ujung kosmis); dan mikroskop (yang telah membawa manusia ke era sub-atomik).
Teori-teori ilmu pengetahuan yang telah membawa revolusi berfikir manusia adalah hukum gravitasi (membawa manusia ke dalam konteks keteraturan dan harmorni jagat); penemuan elektromagnetik (yang membawa revolusi informasi dan mempertanyakan makna jarak); serta teori evolusi (yang membawa kita ke pemikiran tentang pertumbuhan dan tahapan perkembangan).


2.6     Peran Pemuda Indonesia dalam Pengembangan IPTEK
Sesungguhnya pemuda bukan sekedar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, pemuda merupakan agent of change (agen perubah) dan agent of social control (agen kontrol sosial). Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu menempati peran yang sangat strategis dari setiap peristiwa penting yang terjadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemuda menjadi tulang punggung dari keutuhan perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang ketika itu.
Sejarah telah membuktikan, bahwa diberbagai belahan dunia, perubahan sosial politik menempatkan pemuda di garda depan. Peranannya menyeluruh, tak hanya mata air, tapi juga hulu, hilir sampai muara, bahkan pemuda sebagai air atau sumber energi perubahan. Tak tanggung-tanggung pemimpin seperti Bung Karno (Presiden RI Pertama) mengungkapkan kata-kata pengobar semangat “ Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia pasti berubah”.
Sejak era reformasi bergulir tahun 1998, dimana pemuda juga punya peran luar biasa. Banyak orang kecewa karena reformasi tidak jadi katalisator proses pencerahan kehidupan berbangsa dan bernegara, malah sebaliknya. Sekarang pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik, dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial dan intelektual pencerahan dalam peningkatan keilmuan, sehingga kemandirian pemuda saat ini sangat sulit berkembangan dalam mengisi pembangunan bangsa dan negara.
Menyikapi hal tersebut, menunjukkan bahwa peran pemuda Indonesia mulai menghadapi degradasi dalam sepak terjangnya. Suasana perkembangan IPTEK yang terus mengalami loncatan spektakuler membuat pemuda seakan hanyut didalamnya. Pemuda Indonesia saat ini hanya bisa menikmati hasil inovasi riset yang dilakukan oleh bangsa lain, bahkan dalam pergerakannya hanya bersifat sebagai otokritik tanpa suatu solutif dalam menyikapi berbagai perkembangan IPTEK.

Arus Globalisasi IPTEK yang makin deras menghunjam setiap sektor kerja, membuat pemuda Indonesia seakan tidak bergeming untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Harapan dan cita-cita pemuda hanya berupa belajar, mendapat nilai, titel dan ijazah, dan selanjutnya mencari kerja. Demikian kondisi dilematis yang dihadapi pemuda Indonesia saat ini. Jika kondisi pemuda Indonesia demikian adanya, maka cita-cita bangsa akan hanya berada pada titik nadir tertentu.
Kita mengetahui bahwa persaingan global berlangsung dengan sangat ketat, akibat pesatnya perkembangan IPTEK dalam berbagai sendi kehidupan. Dalam persaingan global tersebut, hanya bangsa-bangsa yang mampu menguasai IPTEK yang dapat memelihara kemandirian bangsanya serta mengambil peran yang berarti dalam berbagai sektor.
Selanjutnya, disadari bahwa perkembangan IPTEK telah banyak membantu meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kehidupan umat manusia di dunia. Namun bersamaan dengan itu pula, penerapan dan pemanfaatan hasil-hasil perkembangan IPTEK yang pesat selama ini, telah melahirkan tuntutan dan kesadaran baru akan pentingnya landasan etika dan dimensi spiritualitas serta moralitas dalam pengalaman pembangunan dibanyak negara maju. Kemajuan IPTEK yang pesat tersebut, juga ditandai dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup global yang glamour.
Maka untuk menghadapi perkembangan IPTEK yang dahsyat tersebut, sangatlah penting bagi pemuda Indonesia untuk meningkatkan kualitasnya, baik dari segi Iman dan Takwa (IMTAK) maupun IPTEK dengan berpegang teguh pada nilai-nilai budaya bangsa maupun agama. Karena dengan bermodalkan IMTAK dan IPTEK, maka pemuda Indonesia dapat diharapkan berperan di garis depan dalam upaya pengembangan IPTEK dan perdamaian serta pembangunan yang merata dan berkeadilan secara berkesinambungan di muka bumi. Pemuda Indonesia harus menjadi pilar dan teladan dalam landasan moral, etika dan spiritual masyarakat dan bangsa dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya.

Pengalaman telah membuktikan, bahwa penguasaan, pengembangan dan pendayagunaan IPTEK yang tidak didasari oleh moralitas, etika dan spiritualitas, akan dapat membawa manusia atau suatu bangsa menuju penderitaan, kesengsaraan dan kehancuran.
Oleh karena itu, para pemuda Indonesia harus senantiasa berada didalam jalur nilai-nilai kemanusian dan keagamaan yang luhur. Sehingga dengan menciptakan kewirausahaan dalam pembangunan dan meningkatkan pengetahuan tentang ilmu dan teknologi, serta menumbuhkembangkan jiwa kepeloporan, daya pikir, inovasi, kreativitas dalam mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan akan melahirkan generasi yang profesionalis dan amanah.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1     Kesimpulan
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun IPTEK yang berkembang pun tidak boleh asal berkembang. Diperlukan penyeimbang yaitu kuatnya agama dan pembentukan mental yang positif. Tanpa keduanya, IPTEK akan berkembang ke arah negatif yang akhirnya menyampingkan Allah SWT.
Einstein pernah berkata, “ Science without religion is blind, religion without science is lame “. Yang artinya, “Pengetahuan tanpa agama adalah buta, agama tanpa pengetahuan adalah cacat.
Oleh karena itu, untuk mengelola dan membangun Indonesia, perlu adanya IPTEK dengan disertai kuatnya agama dan mental positif rakyat, terutama pemuda sebagai tunas harapan bangsa.
3.2     Saran
Adanya  Ilmu pengetahuan dan Teknologi  ( IPTEK ) adalah  buah pikiran manusia, manusia mengelola untuk  kemaslahatan  hidupnya. Dengan  cara meneliti,  mengembangkan, dan mengkaji  objek  penelitian sesuai dengan  keperluannya.  Untuk itu, kita semua  harus  mengenalkan IPTEK sebagai  bekal kemajuan hidupnya.  Kita harus mencitakan  alat-alat yang  bermanfaat  bagi kehidupan  sosial, melalui  IPTEK. Dan satu hal yang penting bagi  dalam mengembangkan  ITPEK kita harus  mengembangkan  ilmu pengetahuan yang ramah lingkungan untuk mengurangi   negatif  dari sebuah  teknologi.
DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Iskandar. 1980. Teknologi dan Perkembangan. Jakarta : Yayasan Idayu 
Amiruddin. 2009. Dampak kemajuan IPTEK terhadap kehidupan manusia dan sistem pendidikan [Online] (http://ilmuapaaje.blogspot.com/2009/06/dampak-kemajuan-IPTEK-terhadap.html). Diakses pada 22-07-2011.
Anonimous. 2009. Peran Pemuda Indonesia Dalam Menghadapi Kemajuan IPTEK. [Online] (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2104988-peran-pemuda-indonesia-dalam-menghadapi/#ixzz1SoQxd2qT). Diakses pada 22-07-2011.
Anonimous. 2010. Pemuda Dan IPTEK. [Online] (http://ekspresimimpi.blogspot.com/2010/07/pemuda-dan-IPTEK.html). Diakses pada 22-07-2011.
Anonimous. 2011. Dampak IPTEK pada Kehidupan Sosial. [Online] (http://wicascout.blogspot.com/2011/03/dampak-IPTEK-pada-kehidupan-sosial.html). Diakses pada 22-07-2011.
Marwah. 2010. Dampak Negatif Kemajuan Teknologi Komunikasi. [Online] (http://marwahdaud.com/index.php?mact=News,cntnt01,print,0&cntnt01articleid=24&cntnt01showtemplate=false&cntnt01returnid=34). Diakses pada 22-07-2011.
Rakim. 2008. Dampak Teknologi Terhadap Kehidupan Manusia. [Online] (http://rakimborneo.wordpress.com/2008/06/12/dampak-teknologi-terhadap-kehidupan-manusia/). Diakses pada 22-07-2011.



PERANAN GENERASI MUDA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA


KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam saya panjatkan atas bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga saya dapat menyusun makalah PERANAN GENERASI MUDA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA.
Ucapan terima kasih yang dalam kami ucapkan kepada Ibu Handayani S.Pd selaku guru mata pelajaran sejarah kelas XII IPS serta kepada pihak lain yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Saya selaku penulis makalah menyadari masih banyak kesalahan dalam hal penulisan maupun dalam tata bahasa.oleh karena itu saya mengharap kritik dan sarannya demi perbaikan dalam pengerjaan tugas yang akan datang.
Saya berharap dengan adanya makalah ini dapat benar-benar bermanfaat bagi yang membacanya.
Terima Kasih.



Jombang, Oktober 2009


       PENYUSUN      

A.   Pendahuluan
Dalam konteks sejarah nasional, pemuda telah mencatatkan beberapa goresan penting yang tidak akan mungkin dapat terlupakan bagi bangsa Indonesia. Goresan tersebut terekam di dalam beberapa momentum historis bangsa kita yang mencerminkan betapa besarnya peran pemuda di dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya didalam rangka mendorong bangsa dan negara kita menuju suatu eksistensi yang lebih baik. Beberapa momentum tersebut misalnya:
1.      Momentum Sumpah Pemuda di saat berkumpulnya kelompok-kelompok pemuda yang tergabung di dalam organisasi-organisasi kedaerahan, kesukuan dan agama 71 tahun yang lalu di tahun 1928, menyatakan tekad bersama untuk hidup dalam suatu kesatuan bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia. Dalam momentum ini, pemuda-pemuda Indonesia meletakkan kerangka landasan (embrio) terwujudnya Indonesia sebagai negara bangsa.
2.      Saat-saat menjelang proklamasi negara RI disaat sekelempok pemuda melakukan desakan kepada presiden RI dengan membawa Bung Karno ke Rengas Dengklok--untuk segera memproklamirkan kemerdekaan negara Indonesia tanpa menunggu waktu lebih lama, di saat justeru pemimpin-pemimpin bangsa tengah berpikir untuk menempuh langkah-langkah yang ‘lurus’ melalui jalur diplomatik
dan jalur politik. Akibat dari desakan pemuda tersebut kemudian kita melihat pada tanggal 17 Agustus 1945, dwi tunggal pemimpin bangsa kita pada saat itu memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
3.      Peran pemuda yang tergabung dalam aksi KAMI dan KAPI di dalam melakukan koreksi terhadap perjalanan sejarah bangsa yang telah di anggap melenceng dari komitmen awal perjuangan bangsa Indonesia, melalui TRITURA di tahun 1966, yang kemudian melahirkan generasi-generasi angkatan ’66 yang melanjutkan estafet pembangunan bangsa Indonesia, walaupun kemudian belakangan pada tahun 1990-an akhir dikoreksi kembali oleh pemuda.
Dan yang masih hangat di benak kita, peran pemuda yang terdiri dari mahasiswa di tahun 1998-1999 di dalam mempelopori koreksi terhadap kebekuan konstalasi sosio politik Indonesia yang telah berjalan selama 32 tahun, lewat tuntutan reformasi di segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara yang melahirkan tatanan kebangsaan yang kita lihat sekarang ini.


B.     Pegangan Generasi Muda
       Makna Sumpah Pemuda tetap menjadikan pegangan para generasi muda    Indonesia untuk mempertahankan Indonesia sebagai bangsa yang satu. Namun makna tersebut seakan-akan telah hilang dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
             "Makna berbangsa yakni satu bangsa Indonesia, telah tidak ada lagi. Kini                               yang ada hanyalah sifat egoisme para elite politik," kata Sekretaris ICMI Sumatera Barat Najmuddin yang dihubungi Pelita via telepon, kemarin.
   Menurut Najmuddin, Sumpah Pemuda akan tetap memiliki relevansi yang sangat besar dalam kondisi bangsa Indonesia saat ini. Tetapi permasalahan yang terjadi saat ini kurang adanya implementasi dari butir-butir Sumpah Pemuda oleh generasi muda maupun pemerintah. Pemuda Indonesia harus mempunyai visi yang jelas kedepan untuk menyiapkan regenerasi bangsa Indonesia yang akan datang.

 Menanggapi makna Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang cenderung memudar di dalam diri masyarakat Indonesia, khususnya kalangan pemuda dan pemerintah, dosen Universitas Andalas itu menjelaskan, hal itu terjadi akibat dari ketidakmampuan pemerintah untuk menciptakan formula reformasi yang tengah berjalan. Pemerintah dan pemuda harus mempunyai visi politik yang jelas sebagai bangsa yang bersatu dan berdaulat. Mereka jangan bertindak acuh tak acuh terhadap permasalahan yang terjadi pada Indonesia.
 Dari sisi sosial dan ekonomi, tambah dia, pemerintahan saat ini tidak mempunyai formula dan rancangan yang jelas untuk 10 tahun ke depan dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang sejahtera.
 Fenomena saat ini jelas terlihat pemerintah sibuk oleh hal-hal yang membuat sesuatu tidak produktif. Dari sisi politik juga terlihat gambaran politik antagonis, yang selalu mempertahankan ego. Mereka tidak menciptakan suatu kondisi politik negara yang integratif untuk menyatukan bangsa dan menjadikan bangsa Indonesia mempunyai arah dan tujuan yang jelas di masa yang akan datang.
Sementara Ketua HMI Shoim Misbach Haris yang dihubungi terpisah mengatakan refleksi Sumpah Pemuda sering menjadi hal yang klise bagi
generasi muda maupun pemerintah saat ini. Esensi Sumpah Pemuda tentang adanya persatuan, keseragaman, maupun proses menyatu telah menjadi suatu perubahan dan menciptakan konflik vertikal dan horisontal antarrakyat Indonesia.
      "Makna Sumpah Pemuda seakan menjadi kegiatan ritual yang tidak memiliki arti apa-apa dalam berbangsa. Padahal kesadaran yang digali dalam Sumpah Pemuda itu memiliki kesadaran kesatuan, keragaman atas etnis, agama, warna kulit, bangsa Indonesia yang sangat luas," paparnya.
       Menurut dia, disaat penjajahan melawan Belanda telah usai, maka makna tersebut bertujuan untuk pemerataan seluruh rakyat Indonesia atas kesejahteraan mereka."Tapi, sering acara seremonial yang diulang setiap tahun menjadi basi. Karena kondisi kehidupan rakyat Indonesia penuh dengan kesenjangan sosial, bahkan rakyat kecil semakin terpinggirkan," jelasnya. Oleh karena itu agar Sumpah Pemuda menjadi bermakna, maka harus ada generasi muda yang baru yang bebas dari masalah-masalah sosial bangsa Indonesia. Selain itu strategi sosial budaya yang berbasis kesejahteraan rakyat. "Bahkan jika perlu dibuat suatu Sumpah Pemuda yang baru oleh generasi baru.



C.     Peran Serta Generasi Muda dalam Pembangunan.
Disaat kondisi bangsa seperti saat ini peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar, penggerak dan pengawal jalannya reformasi dan pembangunan sangat diharapkan. Dengan organisasi dan jaringannya yang luas, pemuda dan generasi muda dapat memainkan peran yang lebih besar untuk mengawal jalannya reformasi dan pembangunan. Permasalahan yang dihadapi saat ini justru banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi, dislokasi dan terlibat pada kepentingan politik praktis. Seharusnya melalui generasi muda atau pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang yang ada. Pemuda atau generasi muda yang mendominasi populasi penduduk Indonesia saat ini mesti mengambil peran sentral dalam berbagai bidang untuk kemajuan antara lain:
1.      Saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan. Pemuda harus meletakkan cita-cita dan masa depan bangsa pada cita cita perjuangannya. Pemuda atau generasi muda yang relatif bersih dari berbagai kepentingan harus menjadi asset yang potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa depan. Saatnya pemuda memimpin perubahan. Pemuda atau generasi muda yang tergabung dalam berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memiliki prasyarat awal untuk memimpin perubahan. Mereka memahami dengan baik kondisi daerahnya dari berbagai sudut pandang. Kemudian proses kaderisasi formal dan informal dalam organisasi serta interaksi kuat dengan berbagai lapisan sosial termasuk dengan elit penguasa akan menjadi pengalaman (experience) dan ilmu berharga untuk mengusung perubahan.
2.      Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama (common interest) untuk suatu kemajuan dan perubahan. Tidak ada yang bisa menghalangi perubahan yang diusung oleh kekuatan generasi muda atau pemuda, sepanjang moral dan semangat juang tidak luntur. Namun bersatunya pemuda dalam satu perjuangan bukanlah persoalan mudah. Dibutuhkan syarat minimal agar pemuda dapat berkumpul dalam satu kepentingan. Pertama, syarat dasar moral perjuangan harus terpenuhi, yakni terbebas dari kepentingan pribadi dan perilaku moral kepentingan suatu kelompok. Kedua, kesamaan agenda perjuangan secara umum Ketiga, terlepasnya unsur-unsur primordialisme dalam perjuangan bersama, sesuatu yang sensitive dalam kebersamaan.
3.      Mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme dikalangan generasi muda atau pemuda akan mengangkat moral perjuangan pemuda atau generasi muda. Nasionalisme adalah kunci integritas suatu negara atau bangsa. Visi reformasi seperti pemberantasan KKN, amandeman konstitusi, otonomi daerah, budaya demokrasi yang wajar dan egaliter seharusnya juga dapat memacu dan memicu semangat pemuda atau generasi muda untuk memulai setting agenda perubahan. 
4.      Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan jatidiri daerah. Semangat kebangsaan diperlukan sebagai identitas dan kebanggaan, sementara jatidiri daerah akan menguatkan komitmen untuk membangun dan mengembangkan daerah. Keduanya diperlukan agar anak bangsa tidak tercerabut dari akar budaya dan sejarahnya. 
5.      Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda dalam melaksanakan agenda-agenda Pembangunan. Energi pemuda yang bersatu cukup untuk mendorong terwujudnya perubahan. Sesuai karakter pemuda yang memiliki kekuatan (fisik), kecerdasan (fikir), dan ketinggian moral, serta kecepatan belajar atas berbagai peristiwa yang dapat mendukung akselerasi perubahan. 
6.      Pemuda menjadi aktor untuk terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya. Tidak dapat dihindari bahwa politik dan ekonomi masih menjadi bidang eksklusif bagi sebagian orang termasuk generasi muda. Pemuda harus menyadari , bahwa sumber daya (resource) negeri ini sebagai aset yang harus dipertahankan, tidak terjebak dalam konspirasi ekonomi kapitalis. 
7.      Secara khusus peranan pemuda di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung seharusnya lebih berorientasi kepada upaya membangun kualitas sumber daya manusia dan upaya menjaga kualitas sumber daya alam Bangka Belitung agar tetap dapat mempunyai daya dukung bagi pembangunan Bangka Belitung dasawarsa kedepan dan untuk persiapan bagi generasi mendatang. Sebagai suatu propinsi yang baru menginjak usia delapan tahun banyak hal yang harus diperbuat, diperjuangkan dan ditingkatkan agar propinsi ini dapat sejajar serta dapat mengejar ketertinggalan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Issue aktual tentang kerusakan lingkungan di Bangka Belitung hendaknya menjadi perhatian serius dan utama mengingat eksploitasi terhadap biji timah yang sudah dimulai sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1710, kemudian dilanjutkan oleh bangsa asing kulit putih yaitu bangsa Inggris tahun 1812 dan bangsa Belanda sejak tahun 1814 hingga kemerdekaan, kemudian dilanjutkan eksploitasinya oleh perusahaan Timah milik negara dan sekarang malah dieksploitasi secara bebas dan besar-besaran oleh rakyat tanpa memperhatikan aturan-aturan dan kelestarian lingkungan, akan berakibat pada kerusakan dan kehancuran. Dalam posisi inilah harusnya pemuda atau genersi muda dapat berperan menghentikan kerusakan dan mengajukan alternatif solusi yang cerdas bagi penyelesaiannya dan terutama sekali solusi terbaik bagi penghidupan rakyat pasca timah. Saat ini suara, pemikiran dan tindakan nyata dari generasi muda atau pemuda, mahasiswa, akademisi atau dari golongan elite terpelajar nyaris tak terdengar, sebetulnya banyak kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang perlu dikritisi secara arif.
8.      Pemuda atau generasi muda harus dapat memainkan perannya sebagai kelompok penekan atau pressure group agar kebijakan-kebijakan strategis daerah memang harus betul-betul mengakar bagi kepentingan dan kemashlatan umat.

D.     PERAN PEMUDA DALAM MENJAGA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
Arip Musthopa
Sejarah lahir dan tumbuh kembang NKRI tidak pernah lepas dari satu nama; “pemuda”. Sejak dari Boedi Oetomo (1908) sebagai Kebangkitan Nasional; Sumpah Pemuda (1928) sebagai kelahiran bangsa Indonesia; Proklamasi Kemerdekaan (1945) sebagai kelahiran negara Indonesia; sampai Gerakan Reformasi (1998) sebagai perjuangan mengembalikan kehormatan bangsa dari otoritarianisme adalah bentuk partisipasi pemuda yang umum dikenal dalam mengawal bangsa ini.
Dalam catatan yang lebih detail, ancaman dari dalam negara seperti peristiwa PKI Madiun para pemuda juga berperan besar dalam pemberantasanya. Menanggapi pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, wakil ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro –yang ketika itu juga menjabat sebagai Ketua PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia)– membentukCorps Mahasiswa (CM)di bawah komando Hartono, sedang Ahmad Tirtosudiro sendiri menjadi Wakil Komandan untuk membantu pemerintah menumpas pemberontakan PKI Madiun, dengan mengerahkan anggotanya ke gunung-gunung yang di anggap sebagai lokasi persembuyian dari para pemberontak tersebut.
E.    Peranan Pemuda di Bidang Politik
Fakta sejarah telah mencatat bahwa peran pemuda sebagai agent of change telah terbukti sebagai salah satu pelopor perubahan penting dalam tatanan masyarakat, bangsa bahkan menjadi sebuah kekuatan utama dalam gerakan revolusi. Gerakan revolusi ini pada akhirnya melahirkan tatanan kehidupan yang baru dalam masyarakat. Realita ini terjadi pada gerakan revolusi Perancis tahun 1968 yang telah melahirkan tatanan politik baru dan gagasan besar seperti feminisme, gerakan anti-nuklir, dan ekologisme ( Robert Gildea, ”French Student Revolt”, dalam Jack A Goldstone (ed), The Encylopedia of Political Revolution, Chicago & London: Fitzroy Dearborn Publisher, 1998 hal.185-186 ). Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bagian dari sumbangsih peran strategis pemuda. Kontribusi pemuda tersebut berlangsung sejak era kebangkitan nasional, perjuangan lahirnya kemerdekaan, pengawalan transisi rezim orde lama (orla) ke orde baru (orba), penggulingan tirani orde baru menuju orde reformasi sampai akhirnya sumpah pemuda sebagai spirit building dalam proses penyatuan konsep berbangsa, berbahasa dan bertanah air.
Realita peran pemuda di atas harus diakui karena memiliki semangat nasionalisme tinggi dalam memperjuangan tatanan demokrasi bangsa yang berorientasi pada gerakan pro-kerakyatan. Kondisi pemuda Indonesia pada saat itu merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Optimistik gerakan pemuda lahir dari idealisme yang sangat kuat. Selain itu, pemuda memiliki mental kepribadian yang kuat, bersemangat, etos kerja yang tinggi, ulet, kritis, disiplin, inovatif dan bekerja keras dalam menjadikan kehidupan bangsanya menjadi lebih baik. Gerakan pemuda saat itu merupakan gerakan yang terorganisir- teratur melalui organisasi, salah satunya adalah Organisasi Kepemudaan (OKP). Beberapa Organisasi Kepemudaan/Kemahasiswaan yang masih eksis adalah Gerakan Pemuda Ansor (GPM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM) dan beberapa elemen kepemudaan lainnya. Kehadiran OKP pada zaman kemerdekaan merupakan kekuatan starategis yang luar biasa. Orientasi gerakan yang diterapkan beraviliasi pada intelektual-praksis menuju konsep kebangsaan dan good governence. 
Namun, semangat dan arah gerakan OKP-OKP akan keluar dari gerakan idelisme jika pemuda yang ada di dalamnya baik struktural maupun non-struktural telah dirasuki oleh pola pikir praktis. Mereka bukan lagi berkonsep jangka panjang akan tetapi, memiliki konsep ide, gagasan hanya bersifat jangka pendek. Jelas, hal ini hanya akan mengotori semangat nasionalisme pemuda. Padahal, generasi muda adalah generasi penerus bangsa dalam menciptakan country building yang lebih baik, mapan dan berpihak pada rakyat. 
Potensi pola pikir praktis berpeluang besar dimasuki oleh pemuda OKP-OKP, mengingat Bangsa Indonesia akan menghadapi dua agenda besar dalam pesta demokrasi yaitu Pemilihan Umum Calon Legislatif (Caleg) dan Pemilu Presiden. Dua agenda demokrasi Indonesia ini tepatnya pada tanggal 9 April dan 9 Juni 2009 yaitu Pemilu Caleg dan Pemilu Presiden-Cawapres. Dua ruang demokrasi ini sedang menganga dan siap mencengkram ritme ruh gerakan para pemuda OKP. Pemuda akan mudah terjebak jika tidak memilki semangat seperti pemuda zaman kemerdekaan dan sebaliknya akan menjadi ”manusia setengah dewa” jika refleksi semangat pemuda zaman dulu tertanam kuat dalam pola pikir pemuda zaman sekarang. Hal ini bisa saja terjadi karena pemuda zaman sekarang telah mengalami degradasi spirit kebangsaa. 

Pola pikir praktis juga disebabkan adanya arus besar globalisasi yang berimbas pada peralihan ruh gerakan pemuda dari agent of change menjadi agent of hedonis. Mereka tidak lagi berpikir tentang bagaimana membangun bangsa dan menciptakan demokrasi pro-kerakyatan melainkan berjiwa konsumerisme dunia hedonis. Inilah virus terbesar yang sedang mejangkiti pemuda. Di media massa (Surat Kabar, Majalah, Radio Televisi) selalu menyajikan berita skandal video mesum, korban obat-obat terlarang, tawuran, dan subjeknya tak lain kebanyakan dari golongan pemuda. Sangat ironis bukan!
Pola pikir praktis hanya memiliki format gerakan jangka pendek (short time) dan kepentingan sesaat . Oleh karena itu, pemuda harus secepatnya menata diri agar semangat nasionalisme tetap menjadi painting of great movement. Apa yang diungkapkan Muhaimin Iskandar menjadi sebuah loncatan strategis, saatnya pemuda (dalam OKP baik struktural maupun non-struktural) menghilangkan tradisi ”politik kerumunan” yaitu politik yang memilki arti gerak politik berbasis isu, ide, momentum dan kepentingan hanya berorientasi jangka pendek (baca: melampaui demokrasi).
Mengubah Pola Pikir Pemuda.
Virus pola pikir praktis yang sangat mudah dan cepat merasuki pemuda menjadi musuh utama terhadap perubahan ruh gerakan OKP. Oleh karena itu, pemuda yang memilki intelektual, berpikir kritis dan berada dalam perasaan manusia ideal (masih bersih dari politik kekuasaan) saatnya mengubah pola pikir. Pemuda harus tetap dalam rel utama sebagai agent of change untuk melahirkan gagasan baru dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang baru pula.
Pengungkapan ide, gagasan yang bersifat jangka pendek dan kepentingan sesaat harus dihilangkan. Berpikirlah ”organisasional” yaitu memilki gerak politik strategis yang bersandar pada perjuangan kepentingan bersama, bersifat jangka panjang dan terlembaga dalam sebuah organsisasi (baca: Melampaui Demokrasi). Kepentingan jangka panjang dimaknai sebagai kepentingan konstituen organisasi, kader, pengurus dan kepentingan bangsa pada umumnya yang menjadi format perjuangan organisasi. Kaitannya dengan pesta demokrasi, pola pikir sangat dibutuhkan dalam menciptakan demokrasi ideal bagi masa depan bangsa Indonesia. Format perjuangan jangka panjang itu dapat terangakai dalam style of movement (baca: merangkai strategis organisasi) sebagai kepentingan bangsa Indonesia seutuhnya. 
Pertama, Gerakan Sosial. Terciptanya masa depan demokrasi Indonesia yang ideal merupakan perjuangan bersama terlebih peran pemuda OKP-OKP. Kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia selalu menjadi sorotan utama dalam perjalanan pemerintahan bangsa. Tingginya angka kemiskinan dan banyaknya pengangguran menjadi indikasi gagalnya pemerintah dalam peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketidaksetaraan kehidupan masayarakat antara kaum ekonomi kelas menengah ke bawah dan menengah ke atas harus menjadi perjuangan gerakan sosial. Pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah, petani dan pengusaha kecil, akan menciptakan kemandirian dalam basis masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ini akan lebih bermanfaat bagi pola gerakan OKP sebagai bentuk perjuangan pemuda terhadap masyarakat kecil.
Kedua, Gerakan Kebudayaan. Mengingat sejarah tumbangnya orde baru ke orde reformasi, maka tugas terpenting dalam proses lahirnya era reformasi itu adalah melanjutkan agenda reformasi. Tugas ini sebagai bentuk tanggung jawab pemuda. Kaitannya dengan Pemilu 2009, pemuda dituntut untuk berani bertanggung jawab dalam mengawal peralihan demokrasi. Peralihan ini menjadi great responsiblity yang merupakan akar budaya gerakan pemuda. Budaya ini akan melahirakan image building terhadap pemuda pada perwujudan pembebas, pluralitas dan pencipta dinamisasi kehidupan berbangsa.
Ketiga, Gerakan Politik Strategis. Pola gerakan ini merupakan kombinasi kedua pola gerakan di atas. Politik strategis memiliki makna yang sangat jauh dengan dengan politik praktis. Politik strategis berorientasi pada kebutuhan jangka panjang sedangkan politik praktis hanyalah berwujud kebutuhan sesaat. Pemuda menjadi adalah icon yang mengubah kehidupan bangsa dalam mencetuskan ide strategis dan advokasi yang berakhir pada perjuangan rakyat kecil. Jiwa sensitivitas terhadap fenomena bangsa yang tidak berpihak pada rakyat harus menjadi ruh utama dalam mengawal kebijakan pemerintah, baik lokal maupun nasional.  
Sejarah Sosial Pemuda Indonesia
Bermula dengan lahirnya pergerakan pemuda yang muncul dalam bentuk kedaerahan pada tahun 1915 yaitu Jong Java yang kemudian diikuti oleh Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes (1918), Jong Minahasa (1918), Sekar Roekoen (1919), dan Jong Batak (1925), akhirnya mengilhami para pemuda untuk membentuk satu organisasi pemuda seluruh Indonesia yang nantinya dapat bersatu dalam satu ikatan yaitu sumpah pemuda.
Anggota Jong Java adalah pemuda yang berpendidikan Belanda yang berusaha menjaga kesadaran atas warisan budaya Jawa, sedangkan anggota Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Minahasa, Sekar Roekoen dan Jong Batak adalah pemuda dari kalangan dengan status sosial tinggi, mereka dikirim untuk memperoleh pendidikan lanjutan di pulau Jawa. Adanya kesamaan antar organisasi berupa; sama-sama berpendidikan Belanda, keterbukaan terhadap norma budaya Barat dan memiliki konsep kemandirian politik dan berbangsa inilah yang menyatukan mereka. Hingga puncaknya terjadi pada tahun 1929 di mana perwakilan dari Jong Java, pemuda Sumatera dan Pemuda Indonesia berkumpul menjadi satu dan mengatasnamakan Indonesia Muda, mereka membubarkan diri secara resmi organisasi yang sebelumnya mereka bentuk.
Petikan kisah di atas merupakan sedikit dari apa yang dipaparkan dalam buku Sumpah Pemuda (Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia) karya Keith Foulcher, buku ini membeberkan secara jujur sejarah baik sulit maupun mudahnya mempersatukan pemuda Indonesia untuk ikut memikirkan Indonesia di masa depan jika telah merdeka.
Perubahan Indonesia selalu tidak terlepas dari peran pemuda, dan bergaungnya sumpah pemuda adalah salah satunya dari perubahan tersebut. Tapi sejarah panjang peran pemuda tersebut surut pasca tumbangnya rezim orde baru yang kemudian lebih dikenal dengan era reformasi. Terbukti dengan peringatan 80 tahun sumpah pemuda dan 10 tahun reformasi, minim bahkan dapat dikatakan tidak ada kegiatan yang berarah pada perubahan yang dilakukan oleh pemuda.
Degradasi peran sosial inilah yang seharusnya dibenahi oleh pemuda Indonesia, tidak hanya didiskusikan tapi juga harus ada pembuktian untuk ke arah yang lebih baik. Kondisi Indonesia yang serba dilematis saat ini seharusnya pemuda harus ikut memikirkannya. Banyak hal yang dapat dikerjakan oleh pemuda sebagai peran memikirkan bangsa, salah satunya adalah kembali kepada intisari isi sumpah pemuda. Bahwa mengakui satu bangsa, mengakui satu tanah air dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia adalah pegangan dan pijakan untuk kembali mempersatukan pemuda.
Fanatisme kedaerahan dan primordialisme adalah tantangan terberat untuk mepersatukan kembali pemuda Indonesia. Tetapi, pemuda Indonesia harus lebih cerdas dan cerdik untuk mengatasinya secara bersama-sama. Memperkenalkan kembali keragaman budaya bangsa setidaknya dapat dicoba untuk ditawarkan kepada pemuda agar kembali memiliki satua rasa kepemilikan atas Indonesia. Sumpah pemuda adalah symbol kebangsaan pada masanya, dan setiap masa selalu dan akan semakin besar tantangannya. Artinya, harus ada hal entah apa namanya yang sesuai dengan zaman sekarang untuk menarik kembali semangat kesatuan pemuda Indonesia.
Menarik mendengarkan apa yang dituturkan oleh Bung Karno pada saat peringatan sumpah pemuda ke-28 pada 28 Oktober 1956 yang diambil dari sumber Harian Rakjat, 1956, “Presiden menjatakan bahwa diperingatinja hari 28 Oktober kali ini adalah suatu opfressing, suatu freshing up, suatu penjegaran bagi semangat persatuan jang akhir-akhir ini terganggu. Presiden menjatakan bahwa sudah selajaknya Sumpah Pemuda diperinagti, bahkan djangan hanja setiap tahun, tetapi tiap-tiap hari, tiap-tiap djam, tiap-tiap menit, tiap-tiap detik. Persiapan ideologis, jaitu Sumpah Pemuda, memerlukan penjelenggaraan praktis itu”
Semangat persatuan pemuda yang kala itu disimbolkan dan hanya dapat disatukan dengan ikon sumpah pemuda selalu diingatkan untuk mengingatnya setiap waktu di setiap tempat. Nah, sudah seharusnya jika saat ini juga ada ikon baru yang sekiranya dapat menjadi suatu pengingat atau ikon kebersamaan untuk mempersatukan kembali pemuda Indonesia yang sudah mulai terkikis dan sudah di ambang perpecahan. Peringatan sumpah pemuda tahun ini juga unik, diperingati pada usianya yang ke-80 tahun dan sebelumnya disambut dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi. Ketiga peringatan tersebut yang terangkum dalam tahun 2008 ini selayaknya pula untuk direfleksikan bersama oleh kaum pemuda untuk memulai mengalihkan semangat kedaerahan yang sebelumnya menjadi semangat kebangsaan sebagaimana organisasi daerah mulai Jong Java hingga Jong Batak membubarkan diri dan bersatu dengan naungan Indonesia Muda.
TERIMAKASIH KITA KEPADA GENERASI MUDA
Gerakan moral dan politik yang dilancarkan oleh para mahasiswa di banyak tempat dewasa ini merupakan peristiwa yang berharga dalam rangka konsep strategis "nation building" dan "character building" bangsa kita. Karena, lebih dari 30 tahun universitas-universitas di negeri kita telah dijadikan kuburan kesedaran politik, kuburan semangat kerakyatan, kuburan patriotisme dan nasionalisme.
Pemerintahan Orde Baru telah mentrapkan garis "depolitisasi" kampus, yang merupakan kesalahan monumental dalam pembinaan jiwa generasi baru. Dengan dalih yang dikarang-karang, universitas telah dijadikan pabrik yang memproduksi kaum intelektual yang tidak-peduli kepada urusan-urusan besar negara dan bangsa, dan yang mempersetankan masalah-masalah penting yang dihadapi rakyat. Berbagai peraturan tingkat kementerian maupun tingkat universitas telah dibikin sedemikian rupa, sehingga kegiatan-kegiatan yang bersifat politik dalam kampus bisa dibatasi atau dicegah. Orde Baru telah berdosa besar kepada generasi yang sekarang, dan juga kepada generasi yang akan datang, dengan memaksakan politik depolitisasi kampus, yang sudah berjalan puluhan tahun itu. Sebab, politik depolitisasi kampus ini telah menanamkan ketakutan di kalangan mahasiswa, yang kemudian merupakan bibit juga bagi tumbuhnya "ketakutan nasional" terhadap sistem politik Orde Baru, ketika mereka sudah terjun dalam masyarkat.
Mengingat itu semua, alangkah bahagianya masa depan bangsa Indonesia bahwa para mahasiswa dewasa ini telah bangkit, dan mulai melancarkan perlawanan terhadap berbagai politik salah dan dosa besar yang dilakukan pemerintahan Suharto. Sama-sama sebagai pemilik republik kita, mereka tidak rela bahwa negara kita, yang berpenduduk 202 juta, dikelola secara buruk oleh beberapa ribu jenderal ABRI dan oleh puluhan ribu pejabat-pejabat tinggi sipil (tokoh-tokoh Glokar di berbagai tingkat). Sebagai calon-calon kader bangsa, hati banyak mahasiswa kita tidak tahan lagi melihat begitu besarnya kerusakan-kerusakan di bidang politik, ekonomi, sosial dan moral, yang dilakukan oleh para penguasa. Sebagai penerus yang akan ikut bertanggung-jawab atas masa depan negeri kita, mereka ingin ikut membereskan republik kita dari segala kebobrokan, yang telah mendatangkan begitu banyak penderitaan bagi rakyat dewasa ini.
Kita semua patut menyatakan kegembiraan dan perasaan trimakasih kita kepada generasi muda, yang dengan gerakan mereka dewasa ini menunjukkan tekad besar untuk ikut-serta meletakkan dasar-dasar yang lebih sehat bagi penyelenggaraan negara kita di masa depan, dengan melakukan reformasi di berbagai bidang, yang sudah tidak bisa ditunda-tunda lebih lama lagi.
PENUTUP
Secara umum dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia generasi muda menduduki posisi penting ketika terjadi perubahan besar di negeri ini.
Dalam mengahadapi tantangan pada masa revormasi seperti sekarang ini perlu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda terutama mahasiswa untuk menghadapi era revormasi dan mempersiapkan diri agar mampu berkompetisi dalam menghadapi era globalisasi dan dampak kemajuan pesat di bidang teknologi.karena hal tersebut telah menjadi tuntutan bagi para pemuda Indonesia,apabila pemuda indonesia terus berupaya meningkatkan peranannya di bidang sosial, ekonomi, dan kultural. Sejalan dengan ini, sebagai bagian dari sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya menghadapi globalisasi. Ini pula yang harusnya menjadi bagian dari semangat nasionalisme baru kita.
Kita tampaknya setuju dengan apa yang dikatakan Max Weber bahwa pemuda tak boleh menjadi ekor sejarah, yang gagal menunaikan peran historisnya. Namun demikian, kiranya peranan pemuda ini tidaklah harus selalu mengedepankan peran politik. Alangkah idealnya jika peran politik ini diimbangi pula dan bersinergi dengan peran sosial, ekonomi maupun peran kultural. Melalui sinergi keempat peran inilah, kita yakin peranan pemuda secara keseluruhan akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan eksistensinya dalam kancah kebangsaan  akan semakin mantap.